Lamongan – Di balik tragedi kekerasan yang merenggut nyawa S (56), tersimpan kisah tentang seorang seniman yang telah memberi warna bagi ruang publik Lamongan. Almarhum bukan sekadar korban, melainkan sosok aktif dan dihormati dalam komunitas seni rupa setempat.
Menurut Cak Jumartono, rekan sesama perupa, S bukan hanya peserta biasa dalam pameran seni. Ia dikenal sebagai pribadi yang konsisten berkarya dan kerap berpameran bersama anaknya.bukan hanya itu beliau juga seorang guru kesenian. Salah satu momen yang paling dikenang adalah ketika karya mereka dipamerkan di Graha Bhineka Karya yang lebih dikenal sebagai Gedung Korpri Lamongan. Tak hanya dipajang, karya mereka turut menghiasi ruang publik gedung pemerintahan tersebut, menjadi bagian dari wajah budaya kota.
Namun, ironi menyelimuti kisah ini. Di satu sisi, S adalah ayah mewariskan keindahan melalui seni. Di sisi lain, anaknya juga pengemar seni (dewa sastra.). kekerasan yang di lakukan sang ayah dari S dan juga merupakan kakek dari dewa sastra mengakhiri hidup sang anak. Tragedi ini menciptakan luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, dan cucunya. tetapi juga bagi dunia seni Lamongan.
Kehilangan ini bersifat ganda: seorang seniman senior dan potensi generasi penerusnya. Dunia seni kehilangan bukan hanya satu tangan kreatif, tetapi juga kesinambungan estetik yang telah mulai tumbuh dalam keluarga tersebut. Ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka kriminal, ada manusia dengan kontribusi nyata bagi kehidupan sosial dan budaya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih menyelidiki motif di balik tindakan pelaku. Sementara itu, komunitas seni dan masyarakat Lamongan mengenang S bukan hanya sebagai korban, tetapi sebagai warga yang pernah mempersembahkan keindahan bagi ruang publik mereka.
Keterangan Gambar:
Graha Bhineka Karya (Gedung Korpri) Lamongan, tempat karya seni almarhum S dan anaknya pernah dipamerkan dan memperkaya ruang publik kota.

























