Di tengah riuh rendah negeri yang kerap dibungkam oleh janji-janji palsu, musisi solo Widhi Lamong menyalakan obor perlawanan lewat nada dan kata. Lewat single terbarunya bertajuk “Kongkalikong”, ia tak sekadar bernyanyi—ia bersaksi, menggugat, dan menggugah.
Dalam balutan pop rock yang menggigit, “Kongkalikong” hadir sebagai kidung perih atas maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang masih mencengkeram akar-akar kekuasaan. Lagu ini bukan sekadar karya, melainkan jeritan nurani yang lahir dari kegelisahan panjang.
> “Banyak pejabat yang hanya omon-omon, pencitraan, dan melakukan kerja sama jahat demi kekuasaan,” tutur Widhi, lantang namun getir.
Nada yang Menyuarakan Luka
“Kongkalikong” adalah cermin retak dari wajah politik Indonesia—memantulkan bayang-bayang oligarki, dinasti kekuasaan, dan politik uang yang kian merajalela. Dalam setiap baitnya, Widhi menelanjangi kemunafikan, membongkar topeng-topeng kekuasaan yang menari di atas penderitaan rakyat.
Namun, di balik kritik tajam itu, terselip harapan. Harapan bahwa musik bisa menjadi pelita, menerangi jalan menuju kesadaran dan keberanian untuk bersuara.
Jejak Langkah Sang Musisi Pejuang
Lahir di Lamongan pada 2 Mei 1979, Suharjanto Widhi—yang kini dikenal sebagai Widhi Lamong—bukan sekadar musisi. Ia adalah aktivis, seniman, dan pejuang rakyat. Sejak masa kuliah di FISIP Universitas Airlangga, ia telah terlibat dalam gerakan reformasi, menyuarakan keadilan lewat aksi dan karya.
Dari Metal Jowo Band yang mengguncang Surabaya di era 90-an, hingga karier solonya yang lebih bebas dan ekspresif, Widhi telah menelurkan lebih dari 100 lagu. Album seperti Jaman Edan, Beda Rasa Beda Telinga, hingga Revolusi Indonesia menjadi saksi bisu konsistensinya dalam bermusik dan bersikap.
Musik Sebagai Senjata Nurani
Kini, di usia yang tak lagi muda, Widhi tak surut langkah. Ia terus berkarya, terinspirasi oleh semangat abadi mendiang Mbah Surip. “Kongkalikong” bukan akhir, melainkan awal dari gelombang suara-suara jujur yang akan terus mengalun.
Lagu ini telah tersedia di berbagai platform digital dan kanal YouTube “Widhi Lamong”. Ia juga aktif menyebarkan pesan lagunya lewat radio dan layar kaca, menjangkau hati-hati yang masih peduli.
Sebait Harapan, Seuntai Perlawanan
Dalam dunia yang kerap bisu terhadap ketidakadilan, “Kongkalikong” adalah tamparan sekaligus pelukan. Ia mengajak kita untuk tak sekadar mendengar, tapi juga merasa. Untuk tak hanya mengutuk gelap, tapi menyalakan lilin.
Widhi Lamong telah menabuh genderang. Kini, giliran kita menyambutnya—dengan telinga yang terbuka, hati yang berani, dan langkah yang tak gentar.
> “Jika suara rakyat dibungkam, biarlah musik yang bersuara.”

























