Kekerasan verbal sering dianggap sepele karena “hanya kata-kata”, padahal dampaknya bisa menghancurkan mental seseorang tanpa terlihat di permukaan. Ucapan merendahkan, sindiran menyakitkan, atau bentakan yang terus-menerus dapat menumpuk menjadi beban psikologis yang berat. Banyak orang memilih diam dan menahan semuanya karena takut dianggap lemah. Padahal luka batin tidak kalah serius dibandingkan luka fisik.
Dalam dunia kerja, kekerasan verbal dapat menciptakan lingkungan yang toxic dan tidak sehat. Seorang karyawan bisa merasa tidak dihargai, tidak aman, dan kehilangan motivasi hanya karena kalimat kasar yang diulang setiap hari. Situasi ini membuat produktivitas turun, kepercayaan diri runtuh, dan hubungan antar-rekan memburuk. Tak sedikit yang akhirnya memilih resign demi menyelamatkan kesehatan mental mereka.
Yang lebih mengkhawatirkan, kekerasan verbal dapat memicu depresi pada individu yang terus menjadi sasaran. Serangan kata yang bertubi-tubi menyebabkan perasaan tidak berharga, gagal, dan tertekan. Depresi yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Dalam kasus ekstrem, korban bahkan bisa mengambil langkah tragis berupa bunuh diri.
Masyarakat perlu memahami bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang besar untuk membangun atau menghancurkan. Tanggung jawab untuk menjaga ucapan berlaku bagi siapa pun, baik atasan, rekan kerja, maupun anggota keluarga. Mengubah budaya komunikasi menjadi lebih empatik adalah langkah sederhana namun berdampak besar. Kita bisa mencegah banyak luka batin hanya dengan memilih kata yang lebih manusiawi.
Korban kekerasan verbal pun perlu diberi ruang aman untuk bercerita tanpa dihakimi. Mendengarkan keluh kesah mereka dapat menjadi pertolongan pertama yang menyelamatkan. Dengan dukungan yang tepat, mereka dapat memulihkan diri dan membangun kembali harga diri yang sempat runtuh. Pada akhirnya, lingkungan yang sehat dimulai dari kesadaran bersama bahwa setiap kata yang kita ucapkan membawa konsekuensi.
Dalam perspektif teologis, Kitab Suci menunjukkan bahwa kata-kata memiliki daya ilahi yang luar biasa. Allah menciptakan dunia ini hanya dengan firman-Nya, dan dari kata-kata itu kehidupan bermula. Jika Sang Pencipta saja memakai kata untuk memberi kehidupan, maka sangat dilarang bagi manusia—ciptaan-Nya—menggunakannya untuk melukai hingga “membunuh” semangat hidup sesamanya. Sudah seharusnya kita meneladani Sang Sumber Kehidupan dengan menjadikan setiap kata sebagai saluran kebaikan, bukan senjata yang menghancurkan.


























