LAMONGAN Di usia ke-56, Perguruan Bela Diri Satria Tunggal Lamongan membuktikan bahwa menjaga warisan tradisi bukan halangan untuk meraih prestasi dan beradaptasi dengan zaman. Usai meraih 14 medali emas di kejuaraan nasional, perguruan dengan filosofi “Kucing Hitam” ini melakukan restrukturisasi kepemimpinan, menyinergikan kearifan sesepuh dengan pendekatan profesional generasi baru.
Prestasi sebagai Bukti Nyata
Komitmen pada pengembangan atlet berbuah manis. Pada Kejuaraan Nasional TAPCHA 2024, kontingen Satria Tunggal berhasil membawa pulang 14 medali emas dan menduduki peringkat ke-7 nasional. Prestasi ini adalah klimaks dari perjuangan panjang perguruan yang telah membina bakat sejak usia dini di berbagai cabangnya, dari Lamongan hingga Tangerang Selatan.
Transformasi dengan Tetap Berakar
Untuk mengakselerasi kemajuan, Satria Tunggal melakukan transformasi struktural yang unik. Pimpinan organisasi dipercayakan kepada profesional muda: dr. Ahmad Hanan Amrullah, Sp.OT., FICS. sebagai Ketua Umum dan Arly Sandra Y.S., Ab. sebagai Ketua Harian. Mereka membawa pendekatan modern dalam manajemen dan ilmu kepelatihan.
Namun, transformasi ini tidak meninggalkan akar. Estafet nilai-nilai inti dijaga oleh Dewan Pendekar yang terdiri dari sesepuh H. Mustofa Chamal dan Nunggal. Mereka memastikan falsafah asli “Kucing Hitam”yang menekankan keseimbangan antara kekuatan dan kasih sayang
serta kemurnian 13 tingkatan aliran tangan kosong warisan pendiri, Bpk. Oedjianto (Alm.), tetap lestari.
Masa Depan yang Menjanjikan
Dengan model kepemimpinan hybrid ini, Satria Tunggal tidak sekadar mempertahankan eksistensi. Mereka aktif mendefinisikan masa depan, menunjukkan bahwa perguruan silat tradisional bisa menjadi kekuatan yang kompetitif dan relevan, sekaligus penjaga kebudayaan yang otentik. Langkah strategis ini menjadi fondasi untuk menghidupi moto mereka: “Janganlah Hidup di Atas Satria Tunggal, Hidupkanlah Satria Tunggal.”
























