Jakarta — Eks Kepala Pusat Komunikasi dan Opini (PCO) Hasan Nasbi menilai Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, layak untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Menurutnya, kepemimpinan Soeharto selama 32 tahun meninggalkan jejak pembangunan yang kuat serta kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa, meskipun tidak lepas dari kekurangan sebagaimana halnya setiap pemimpin.
“Pak Harto layak jadi pahlawan. Selama 32 tahun menjabat, banyak hal yang beliau bangun. Bukan berarti beliau tanpa kesalahan, tapi presiden sebelumnya pun juga memiliki kekeliruan. Saya belum melihat argumen yang benar-benar solid untuk menolak gelar itu,” ujar Hasan Nasbi dalam pernyataannya.
Hasan menilai, penilaian terhadap Soeharto seharusnya dilakukan secara proporsional dengan mempertimbangkan konteks sejarah dan kontribusi nyata terhadap kemajuan bangsa. Ia membandingkan dengan Presiden Soekarno yang telah lebih dahulu mendapat gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2012, meskipun di akhir masa pemerintahannya juga menunjukkan kecenderungan kekuasaan yang sangat dominan.
“Bung Karno di akhir masa hidupnya jadi presiden seumur hidup, tapi tetap diberi gelar pahlawan. Maka tidak ada alasan kuat untuk menolak Soeharto,” tambahnya.
Lebih lanjut, Hasan menyoroti keberhasilan berbagai program pembangunan di era Orde Baru yang berdampak langsung bagi masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan keluarga berencana. Menurutnya, keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) saat itu berperan besar dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk, sehingga pemerintah dapat lebih optimal dalam mendistribusikan kesejahteraan.
“Kalau bukan karena KB di zaman itu, mungkin pertumbuhan penduduk kita akan meledak dan pemerintah tidak sanggup mendeliver kesejahteraan sosial,” ujarnya.
Selain itu, Hasan menilai sistem pendidikan nasional pada masa Soeharto memiliki peran penting dalam membentuk karakter kebangsaan generasi muda. “Pendidikan waktu itu baik. Kita diajarkan kedisiplinan, olahraga pagi, menyanyikan lagu kebangsaan, dan menghafal Pancasila. Nilai-nilai itu membentuk semangat nasionalisme yang kuat,” tuturnya.
Pada masa kepemimpinan Soeharto, Indonesia juga berhasil membangun fondasi ekonomi yang lebih mandiri melalui kebijakan industrialisasi, pengendalian inflasi, serta pembangunan infrastruktur strategis seperti jalan raya, pelabuhan, dan jaringan listrik. Pencapaian swasembada beras pada akhir 1980-an menjadi simbol keberhasilan pembangunan yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara berkembang paling stabil di Asia.
Di sisi lain, stabilitas politik yang diciptakan selama era Orde Baru memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang konsisten. Soeharto berhasil menata birokrasi, memperkuat ketahanan pangan, serta menjaga hubungan luar negeri yang seimbang di tengah dinamika Perang Dingin. Langkah-langkah tersebut menjadikan Indonesia lebih berdaulat dan dihormati di kancah internasional.
Menurut Hasan, setiap masa memiliki tantangan dan karakter kepemimpinan yang berbeda. Namun melihat hasil pembangunan, stabilitas nasional, dan fondasi ekonomi yang diletakkan selama masa kepemimpinan Soeharto, ia layak diakui sebagai tokoh besar yang berjasa membangun Indonesia modern.
“Sejarah memang akan terus menilai, tapi kontribusi Pak Harto dalam pembangunan nasional tidak bisa dihapus. Ia layak disebut pahlawan bangsa,” pungkasnya.
























