LAMONGAN – Suasana kebersamaan dan semangat perubahan mewarnai diskusi publik yang digelar di Posko Aspirasi Masyarakat Lantang (Lamongan Tangi), yang beralamat di Jalan Kinameng Nomor 41, Lamongan. Tgl 24-feb-2026, Kegiatan yang dikemas dalam forum “lantang” ini menjadi ruang reflektif bagi elemen masyarakat untuk menggugah kesadaran kolektif dalam menghadapi berbagai problematika daerah, mulai dari isu korupsi, banjir tahunan, hingga tata kelola pemerintahan yang dinamis.
Diskusi yang berlangsung hangat namun kritis tersebut menghadirkan narasumber utama, Ir. H. Suhandyo, politisi senior yang juga pernah maju sebagai calon Bupati Lamongan pada Pilkada 2020 dengan mengusung slogan “Lamongan Kompak”. Kehadiran tokoh yang akrab disapa Handoyo ini menjadi magnet tersendiri bagi peserta yang didominasi aktivis muda dan pegiat sosial Lamongan.
Tokoh Senior yang Tetap Membumi dan Peduli pergerakan
Dalam sesi diskusi, para peserta secara spontan menyampaikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi Ir. H. Suhandyo. Mereka menilai bahwa di tengah dinamika politik yang kerap membuat figur senior tenggelam, Suhandyo justru tetap eksis dan menunjukkan kepedulian nyata terhadap generasi muda.
“Pak Handoyo ini bukti bahwa tokoh senior tidak harus jauh dari anak muda. Beliau hadir, mendengar, dan memberi ruang bagi kami untuk berpikir kritis tentang Lamongan,” ujar salah satu peserta diskusi.
Semangat lintas generasi ini menjadi energi positif dalam forum, membuktikan bahwa perjuangan mewujudkan Lamongan yang lebih baik adalah tanggung jawab bersama, tanpa sekat usia maupun latar belakang.
Dalam penyampaiannya yang edukatif dan reflektif, Ir. H. Suhandyo menekankan pentingnya langkah-langkah strategis yang harus ditempuh agar gerakan masyarakat tidak berhenti sebagai wacana. Setidaknya ada tiga pilar utama yang ia soroti:
Pertama, konsolidasi dengan tokoh kunci. Suhandyo mendorong penguatan jaringan dan sinergi dengan berbagai elemen strategis di masyarakat. Menurutnya, perubahan tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan kekuatan kolektif yang solid dan terarah.
Kedua, pergerakan media yang beradab. Menanggapi fenomena komentar netizen tentang “Lamongan mbekenyek” yang viral di media sosial ,sebuah ungkapan keresahan publik atas berbagai persoalan daerah ,Suhandyo justru melihatnya sebagai energi yang perlu disalurkan dengan cara tepat. Ia mengingatkan pentingnya penyampaian aspirasi yang santun, tetap menjunjung tinggi adab dan budaya lokal, agar pesan tidak terdistorsi dan justru mengundang simpati luas.
Ketiga, edukasi dan transparansi. Menurutnya, dua hal ini adalah fondasi utama untuk mendorong perubahan sistemik. Masyarakat harus terus diedukasi tentang hak-haknya, sementara pemerintah harus terbuka dalam pengelolaan anggaran dan kebijakan publik.
Salah satu gagasan yang menuai perhatian dalam diskusi adalah visi Ir. H. Suhandyo untuk menjadikan Lamongan sebagai pilot project tata kelola pemerintahan yang lebih baik. Ia membayangkan Lamongan mampu keluar dari masalah klasik seperti korupsi dan banjir melalui gerakan kolektif yang berbasis kesadaran warga.
“Lamongan harus bisa menjadi contoh. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk daerah lain di Jawa Timur bahkan Indonesia. Kita punya potensi, kita punya sumber daya, tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan hati dan nurani,” ujar Suhandyo dalam salah satu sesi dialog.
Gagasan ini disambut antusias oleh peserta. Mereka menilai bahwa pendekatan ini menempatkan Lamongan tidak sekadar sebagai objek perubahan, tetapi sebagai subjek yang memimpin perubahan sebuah pergeseran paradigma yang selama ini dinanti.
Puncak dari rangkaian diskusi dan refleksi bersama adalah lahirnya kesepakatan bulat untuk membentuk Deklarasi Rakyat Lamongan. Dokumen ini lahir murni dari kesadaran kolektif warga Lamongan sendiri, sebagai pernyataan sikap resmi untuk menghentikan segala praktik tidak baik yang selama ini merugikan masyarakat.
Deklarasi ini berisi komitmen bersama untuk secara tegas menolak:
· Praktik korupsi dalam berbagai bentuk
· Tata kelola pemerintahan yang buruk, termasuk yang berkontribusi pada banjir tahunan
· Kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat
“Ini bukan deklarasi yang dibuat oleh segelintir orang. Ini suara warga Lamongan yang ingin bangkit. Lamongan Tangi!” tegas salah satu inisiator forum.
Deklarasi ini diharapkan menjadi titik tolak bagi gerakan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, sejalan dengan cita-cita menjadikan Lamongan sebagai pilot project perbaikan daerah. Semangat “Lamongan Tangi” (Lamongan Bangun) pun menjadi napas baru dalam setiap diskusi dan rencana aksi ke depan
Dalam berbagai kesempatan, Suhandyo kerap menyuarakan pentingnya sinergi antara pemerintah, media, dan masyarakat. Ia juga aktif mendorong produk lokal dan ekonomi kreatif sebagai solusi mengatasi kemiskinan yang masih menjadi pekerjaan rumah daerah.
Diskusi di Posko Aspirasi Masyarakat Lantang ini menjadi bukti bahwa masyarakat Lamongan tidak lagi diam. Keresahan yang selama ini hanya muncul di kolom komentar media sosial, kini menjelma menjadi gerakan sadar yang terorganisir. Dengan semangat kebersamaan dan strategi yang matang, warga Lamongan optimis dapat mewujudkan perubahan.
“Kami tidak ingin Lamongan hanya dikenal karena banjir atau kasus korupsi. Kami ingin Lamongan dikenal sebagai daerah yang warganya sadar, kritis, dan mampu membangun tata kelola yang baik,” pungkas seorang peserta.
Forum pun ditutup dengan optimisme dan komitmen bersama untuk terus mengawal setiap proses perubahan. Lamongan Tangi, Lamongan Bangkit!
Tim Liputan Lantang



















