Lamongan, 21 Januari 2026 — Di tengah riuhnya zaman yang kerap abai pada alam, sebuah ruang sunyi dan penuh warna dibuka di jantung Lamongan. Gedung Graha Bhineka Karya Korpri hari ini menjelma menjadi altar kesadaran ekologis, tempat para seniman dari berbagai penjuru Jawa menumpahkan keresahan dan cinta mereka pada bumi dalam pameran bertajuk “Ekologis Lamongan Megilan”.
Mengusung tema besar “EKOLOGI UNTUK ALAM RAYA”, pameran ini bukan sekadar parade visual. Ia adalah perjalanan batin, sebuah ziarah artistik yang menyingkap luka-luka lingkungan: banjir yang tak lagi musiman, angin yang tak lagi bersahabat, dan hutan yang perlahan kehilangan nyawanya. Semua itu dihadirkan bukan dengan teriakan, melainkan dengan titik, garis, warna, dan goresan—bahasa sunyi yang justru menggema lebih dalam.
Ruang Rasa dan Refleksi
Acara pembukaan yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 16.00 WIB dihadiri oleh Muspida Lamongan, budayawan, seniman, dan masyarakat umum. Namun yang paling menyentuh bukanlah seremoni, melainkan diskusi budaya yang menyusul setelahnya. Bertajuk “Tentang Ekologi, Relasi Manusia, Lingkungan dan Lamongan”, forum ini menjadi ruang refleksi kolektif—sebuah upaya menyulam kembali hubungan manusia dengan alam yang telah lama koyak.
Kolaborasi yang Melampaui Peta
Pameran ini digagas oleh Doglas dan Konspela (Komunitas Seniman Pelukis Lamongan), namun jangkauannya melampaui batas administratif. Dari Sampang hingga Solo, dari Sumenep hingga Semarang, para perupa datang membawa perspektif dan warna masing-masing. Kolaborasi lintas daerah ini menjadi bukti bahwa isu lingkungan bukan milik satu kota, melainkan tanggung jawab bersama.
Tamrin, salah satu koordinator panitia, menyebut pameran ini sebagai “pelataran penuh rindu, ruang mengasa rasa yang dituangkan dalam kanvas putih penuh warna.” Sebuah kalimat yang tak hanya puitis, tapi juga mencerminkan semangat kolektif untuk menebar makna dan harapan.
Seni sebagai Nafas Ekologi
Ekologis Lamongan Megilan bukanlah pameran biasa. Ia adalah bagian dari geliat yang lebih besar—tren kesadaran ekologis yang kini tumbuh subur di Jawa Timur. Di tengah krisis iklim dan degradasi lingkungan, seni rupa tampil sebagai medium perlawanan yang lembut namun tajam, menyentuh nalar sekaligus nurani.
Di Lamongan, suara alam tak lagi hanya terdengar lewat gemuruh hujan atau desir angin. Ia kini berbicara lewat kanvas, mengajak kita merenung, bertanya, dan akhirnya: bertindak.

























