LAMONGAN – Di tengah banjir yang telah melanda enam kecamatan dan 146 desa selama dua bulan terakhir, para pelukis dan seniman Lamongan tak tinggal diam. Melalui pameran lukisan bertema ekologis yang dirangkai dengan Dialog dan Aksi Lingkungan Hidup Lamongan pada Sabtu (24/1/2026), mereka menyuarakan keresahan sekaligus harapan akan masa depan lingkungan yang lebih baik.
Acara yang digelar di Aula Gedung Korpri Lamongan ini diinisiasi oleh Komunitas Pelukis Lamongan (Kospela) dan Lembaga Terpadu Douglas Club, serta dihadiri oleh tokoh-tokoh lintas sektor: seniman, budayawan, aktivis, politisi, tokoh agama, dan perwakilan OPD. Mereka bersatu dalam satu misi: menyusun grand desain pemulihan Lamongan melalui sinergi seni, budaya, dan aksi lingkungan.
Kritik Lewat Warna, Solusi Lewat Aksi

Para pelukis tidak hanya memamerkan karya, tetapi juga menyampaikan kritik sosial atas minimnya respons pemerintah daerah terhadap bencana banjir yang terus berulang. Mereka menilai belum ada langkah konkret dari pemerintah daerah maupun lembaga terkait untuk mengatasi akar persoalan banjir, terutama di wilayah Bengawan Jero yang menjadi episentrum genangan.
“Diskusi ini adalah bentuk kepedulian kami. Ketika air naik, kami tidak hanya mengeluhkami berkarya dan bergerak,” ujar salah satu seniman.
Dorongan Regulasi dan Pemajuan Budaya
Wakil Ketua II DPRD Lamongan, Husen (F-PDIP), menegaskan pentingnya segera merumuskan Perda Tata Kelola Sungai. Ia menyoroti bahwa selama ini hanya ada regulasi terkait waduk, padahal pengelolaan sungai melibatkan banyak kewenangan dan sangat krusial untuk mitigasi banjir.
Diskusi juga menyinggung implementasi UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang telah diadopsi dalam Perda No. 7 Tahun 2021. Pelibatan seniman dalam aksi lingkungan dianggap sebagai wujud nyata dari pemajuan kebudayaan yang menyatu dengan pelestarian alam.
Gerakan Tanam Pohon: Dari Imajinasi ke Aksi Kolektif
Sebagai tindak lanjut, dirancanglah gerakan latihan dan penanaman pohon secara massal yang melibatkan komunitas dari berbagai daerah. Gerakan ini bertujuan memulihkan ekosistem, membangun kesadaran kolektif untuk “merawat ibubumi”, serta membuka peluang ekonomi melalui agroforestri dan ekowisata
“Menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga kehidupan. Ini bukan sekadar tugas pemerintah, tapi panggilan iman dan kemanusiaan,” tegas Cak Nursalim, Wakil Ketua PCNU Lamongan. Ia berharap gerakan para seniman ini menjadi pemantik kesadaran lintas generasi.
Kolaborasi Lintas Lembaga: Menuju Lamongan yang Tangguh
Asisten I Sekretariat Daerah Lamongan, Joko Nursiyanto, menyatakan bahwa Pemkab akan memperkuat koordinasi antar-OPD dan menyusun peta mitigasi bencana sebagai langkah jangka panjang. Dukungan juga datang dari Douglas Club dan tokoh masyarakat seperti Cak Pandi, yang menekankan pentingnya menjadikan gerakan ini sebagai investasi sosial jangka panjang.
> “Kami ingin Lamongan menjadi contoh bagaimana seni, budaya, kebijakan, dan aksi lingkungan bisa berjalan beriringan untuk kesejahteraan bersama.”
> Husni Tamrin
























