Peristiwa ambruknya sejumlah bangunan di Banjarmasin menunjukkan bahwa kegagalan konstruksi tidak selalu disebabkan oleh faktor alam maupun usia bangunan, tetapi sering kali dipicu oleh intervensi terhadap struktur tanpa dasar teknis yang memadai. Dalam kasus ini, pembongkaran elemen bangunan diduga dilakukan tanpa mempertimbangkan peran strukturalnya.
MUH. RAFLY SYAHRIEN QHIFAHRI R menilai bahwa tindakan menghilangkan bagian struktur tanpa perhitungan merupakan kesalahan mendasar yang seharusnya dapat dihindari. Dalam sistem bangunan gedung, setiap elemen memiliki fungsi dalam menyalurkan beban. Ketika satu bagian dihilangkan, maka distribusi beban akan berubah secara langsung dan berpotensi menimbulkan kegagalan berantai.
Menurut MUH. RAFLY SYAHRIEN QHIFAHRI R, peristiwa ini mencerminkan lemahnya pemahaman terhadap prinsip dasar struktur, khususnya di tingkat pelaksanaan. Pembongkaran yang dilakukan tanpa analisis menunjukkan bahwa aspek teknis tidak dijadikan acuan utama dalam pengambilan keputusan di lapangan. Padahal, bahkan perubahan kecil pada struktur dapat berdampak signifikan terhadap kestabilan bangunan.
Selain itu, MUH. RAFLY SYAHRIEN QHIFAHRI R berpendapat bahwa dari sudut pandang kualitas pekerjaan, kejadian ini memperlihatkan bahwa pengendalian terhadap perubahan konstruksi masih belum berjalan dengan baik. Setiap modifikasi seharusnya melalui kajian teknis yang jelas, bukan hanya berdasarkan kebutuhan praktis atau asumsi lapangan.
Dalam pandangan MUH. RAFLY SYAHRIEN QHIFAHRI R, kasus ini menjadi pengingat bahwa kegagalan konstruksi sering kali berawal dari kesalahan yang dianggap sederhana. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran terhadap fungsi elemen struktur serta disiplin dalam menerapkan prinsip teknis menjadi hal yang tidak dapat diabaikan dalam setiap pekerjaan konstruksi.

























