SUKOHARJO – Di tengah kepungan krisis ekologis dan memudarnya ikatan generasi muda dengan akar tradisi, sebuah gerakan kebudayaan yang segar dan partisipatif tengah dibangun di Kabupaten Sukoharjo. Mengusung tajuk “Topeng Wayang Limbah Kertas, Cerita Semesta Kreasi Anak Nusantara Untuk Alam Dan Budaya”, inisiatif ini merespons langsung tantangan zaman dengan memadukan isu lingkungan dan warisan lokal. Gerakan ini merupakan wujud nyata inovasi yang didukung penuh melalui Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan (Dana Indonesiana) untuk Program Layanan Produksi Media Kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2025.
Inisiatif ini tidak berjalan sendiri, melainkan diorkestrasikan melalui kolaborasi erat antara Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia bersama komunitas seni dan sanggar inklusi di Kabupaten Sukoharjo. Sinergi lintas komunitas ini menyatukan peserta yang terdiri dari anak-anak dan remaja, merangkul erat kawan-kawan difabel dalam sebuah ekosistem kerja kreatif yang sepenuhnya inklusif dan setara.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, memaparkan bahwa program ini lahir dari keresahan melihat permasalahan lingkungan akibat penumpukan sampah, khususnya limbah kertas, di wilayah masyarakat urban dan semi-urban. Di saat yang bersamaan, kesenian tradisional seperti topeng dan wayang mulai kehilangan relevansinya di mata anak muda akibat derasnya arus budaya digital yang serba instan.
“Kami tidak sedang sekadar mengajak anak-anak membuat kerajinan tangan dari barang bekas. Kami sedang membangun sebuah ruang interaksi dan transformasi sosial. Mengubah limbah kertas yang tak bernilai menjadi karya seni topeng wayang berkarakter mitologi Jawa dan fabel, seperti Kancil dan Garuda, adalah medium edukasi karakter yang sangat membumi,” urai Fadhel dalam wawancaranya.
Lebih dalam, Fadhel menceritakan bahwa fase pembekalan dan produksi sangat menitikberatkan pada penjiwaan nilai-nilai luhur budaya lokal. “Setiap goresan warna dan bentuk topeng yang diciptakan kawan-kawan muda ini membawa muatan narasi tentang perdamaian, toleransi, dan semangat gotong royong. Kami ingin membuktikan secara langsung bahwa aksi melestarikan alam dan upaya merawat kebudayaan adalah dua napas yang bisa berjalan beriringan dan saling menguatkan,” tambahnya.
Dalam praktiknya, anak-anak tidak sekadar menjadi perajin topeng, namun dipersiapkan secara komprehensif untuk menjadi aktor dan pencerita melalui sebuah pementasan publik terbuka. Melalui medium ini, mereka diajak berekspresi, mengeksplorasi cerita rakyat, dan mempraktikkan langsung prinsip daur ulang (reduce, reuse, recycle) dalam kehidupan nyata.
Mengenai ekspektasi dan target ke depan, Fadhel menaruh optimisme tinggi bahwa percikan kreativitas dari program ini akan meninggalkan jejak yang persisten di masyarakat. “Eksibisi karya dan pementasan publik yang kami rancang nantinya bukanlah titik akhir, melainkan sebuah batu loncatan. Harapan kami, karya yang dilahirkan dari tangan-tangan kreatif generasi muda inklusif di Sukoharjo ini mampu memantik kesadaran publik secara masif mengenai pentingnya pelestarian alam dan kebudayaan. Lebih jauh lagi, kami memimpikan agar model edukasi yang mengawinkan seni, kearifan lokal, dan kepedulian ekologi ini tidak berhenti di sini, melainkan dapat direplikasi dan menjadi rujukan inspiratif bagi komunitas-komunitas lain di penjuru Nusantara,” tutup Fadhel.

























