Kenapa Gizi Balita Itu Penting?
Siapa yang tidak ingin anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan kuat? Pasti semua orang tua menginginkan itu. Namun kenyataannya, masalah gizi pada balita (bayi di bawah lima tahun) masih menjadi perhatian serius di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Masa balita memang periode yang sangat penting sekaligus rentan. Pada usia ini, anak membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan otak, tubuh, dan sistem imunnya. Kalau kebutuhan ini tidak terpenuhi dengan baik, dampaknya bisa berpengaruh hingga anak dewasa nanti, baik dari segi kesehatan fisik maupun kecerdasan.
Di Indonesia, ada tiga permasalahan gizi utama yang menjadi perhatian pemerintah: stunting (tinggi badan tidak sesuai usia), underweight atau berat badan kurang, dan overweight atau kelebihan berat badan. Ketiga kondisi ini sama-sama perlu diwaspadai karena masing-masing membawa risiko kesehatan tersendiri. Nah, artikel kali ini akan fokus membahas tentang underweight atau kekurangan berat badan pada balita.
Balita dikategorikan mengalami underweight berdasarkan indikator pengukuran berat badan menurut umur atau yang disingkat BB/U menunjukkan angka di bawah standar yaitu kurang dari -2 SD dari rata-rata. Sederhananya, berat badannya tidak sesuai dengan usianya dan berada di bawah batas aman atau garis merah.
Tantangan Kesehatan: Angka Balita Underweight Yang Tidak Kunjung Menurun
Pernahkah Anda membayangkan jika dari 100 balita di sekitar kita, sekitar 17 orang di antaranya memiliki berat badan di bawah batas normal? Angka ini mungkin terasa mengejutkan, namun itulah fakta dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024. Prevalensi balita underweight atau berat badan kurang di Indonesia kini mencapai 16,8%. Angka ini bukanlah sekadar angka statistik, melainkan cerminan nyata dari kondisi kesehatan generasi penerus kita.
Jika kita lihat ke tingkat provinsi, Provinsi Banten mencatatkan angka yang sedikit lebih tinggi, yaitu 17,3%. Sementara itu, Kota Tangerang menunjukkan angka underweight sebesar 9,3%. Meskipun terlihat lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional dan provinsi, angka ini tetap tidak boleh dipandang sebelah mata. Setiap balita yang mengalami kekurangan gizi tetap memerlukan perhatian dan penanganan yang tepat. Selain itu, pada faktanya angka prevalensi underweight ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi underweight di Indonesia berada di angka 12,9% dan di Provinsi Banten sebesar 14,2%. Ini berarti dalam kurun waktu hanya satu tahun, terjadi kenaikan hampir 4% secara nasional. Peningkatan yang cukup signifikan ini seharusnya menjadi alarm bagi kita semua untuk segera bertindak.
Apa Sih Penyebab Balita Menjadi Underweight?
Banyak orang tua bertanya, kok bisa anak saya kurus terus atau berat badan anak saya tidak ada perubahan padahal sudah makan banyak. Sebenarnya, ada beberapa faktor yang saling berkaitan:
Kurangnya Asupan Gizi
Sering terjadi pada keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Orang tua ingin memberikan yang terbaik, tapi terkendala biaya. Kurangnya asupan gizi tidak hanya dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi saja namun dari pola pemberian makan ibu pada balita yang salah.
Infeksi Berulang
Anak yang sering diare atau ISPA berisiko lebih tinggi. Saat sakit, nafsu makan berkurang, tapi kebutuhan energi tubuh justru meningkat sehingga tidak mencukupi kebutuhan hariannya.
Sanitasi Buruk
Lingkungan kotor dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri dan kuman penyebab penyakit yang mengganggu penyerapan nutrisi.
Sulit Akses Fasilitas Kesehatan
Jarak jauh atau biaya mahal membuat orang tua malas membawa anak ke Posyandu dan Puskesmas. Masalah gizi pun tidak terdeteksi dini.
Pengetahuan Ibu Kurang
Banyak ibu merasa anak sudah cukup makan kalau kenyang, tanpa memperhatikan keseimbangan nutrisi.
Pola Asuh yang Kurang Tepat
Memberi makan tanpa pengawasan atau tidak teratur dapat menyebabkan nutrisi tidak terpenuhi dengan baik.
Inovasi Intervensi Gizi: POS CERIA (Pola Asuh Cegah Underweight Anak)
Penanganan masalah balita underweight telah dilakukan melalui program POS CERIA (Pola Asuh Cegah Underweight Anak). Program ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, pola asuh, dan asupan zat gizi pada balita underweight. Intervensi yang dilakukan dengan berfokus pada 3 indikator yaitu sebagai berikut:
Media CATITA (Catatan Gizi Anak)
CATITA merupakan media edukasi yang berisi informasi tentang underweight seperti pengertian, penyebab, tata laksana, program intervensi (TABURIA dan PMT), dan pemberian makanan anak berupa isi piringku sesuai usia balita. Media CATITA dikemas dengan desain yang menarik dan mudah dipahami oleh ibu balita. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Saringah et al (2023) bahwa media edukasi seperti booklet yang digunakan efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu balita.
Pemberian TABURIA
Pemberian TABURIA setiap 2 hari sekali dimakanan anak dengan pemantauan berdasarkan kartu checklist TABURIA dengan cara pengisian yaitu ketika sudah memberikan TABURIA dimakanan anak maka centang ditanggal saat pemberian.
Penerapan ISI PIRINGKU
Penerapan isi piringku ini bertujuan untuk memantau bagaimana pemahaman ibu balita dan perubahan pola pemberian makanan pada anak sesuai isi piringku setelah diberikan edukasi dan selama 2 minggu pemantauan. Penerapan isi piringku dapat memengaruhi perbaikan status gizi anak (Husnaeni et al., 2024). Intervensi yang dilakukan pada 9 balita underweight di salah satu wilayah puskesmas mendapatkan hasil 89,5% kepatuhan ibu balita dalam penerapan isi piringku.
Program POS CERIA (Pola Asuh Cegah Underweight Anak)Â ini, diharapkan menjadi salah satu upaya tenaga kesehatan dalam pencegahan dan penanganan balita underweight. Melalui program ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan ibu balita tentang pentingnya gizi seimbang untuk tumbuh kembang anak menurut usianya, meningkatkan asupan zat gizi baik itu zat gizi makro dan zat gizi mikro yang dibantu dengan pemberian TABURIA pada balita, serta memberikan perubahan perilaku ibu balita dalam pemberian makanan pada anak sesuai dengan prinsip isi piringku menurut usia balita.
Daftar Pustaka :
Husnaeni, W. S., Elnawati, E., & Maulana, R. A. (2024). Pengaruh Program Isi Piringku Terhadap Status Gizi Anak Usia Dini di Desa Mangkalaya Kecamatan Gunungguruh Kabupaten Sukabumi. Innovative: Journal Of Social Science Research, 4(4), 13582-13591.
Kementrian Kesehatan RI. (2025). Status Survei Gizi Indonesia 2024. Jakarta.
Kementrian Kesehatan. (2023). Survei Kesehatan Indonesia 2023 (SKI). Kemenkes, RI, 235.
Nabila, S., Aprianti, A., & Yanti, R. (2021). Hubungan Pengetahuan Gizi dan Pendapatan Keluarga dengan Kejadian Balita Underweight Umur 12-36 Bulan. Jurnal Riset Pangan dan Gizi, 3(1), 1-10.
Saringah, L., Tini, T., Busmat, S., & Putri, R. A. (2023). Efektifitas Penggunaan Booklet Terhadap Pengetahuan Gizi Seimbang Pada Ibu Balita Dengan Masalah Gizi Di Desa Tanjung Buka Tahun 2023. Aspiration of Health Journal, 1(3), 534-542.
Penulis : Sintia Aprilia, S.Gz
Mahasiswa Profesi Dietisien
Universitas Esa Unggul
























