Lamongan, 27 Februari 2026 – Aktivis anti-korupsi asal Lamongan, Yak Widhi, kembali memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk kedua kalinya. Kehadirannya di Gedung KPK, Jakarta, pada 14 Februari 2026 bertujuan melengkapi sejumlah berkas yang diminta penyidik. Dokumen tersebut dinyatakan lengkap setelah diterima resmi pada 18 Februari 2026.
Panggilan kedua ini menyusul kunjungan perdana Yak Widhi beberapa waktu lalu yang mendapat apresiasi dari penyidik. Hal itu menandakan bahwa data dan kesaksian yang ia serahkan dinilai kredibel serta relevan bagi pengembangan kasus yang tengah ditangani lembaga anti-rasuah.
Dalam keterangannya kepada media, pria yang akrab disapa Cak Widhi menegaskan bahwa langkahnya bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif, melainkan bagian dari gerakan moral.
> “Harus ada gerakan nyata agar Lamongan benar-benar bersih dari korupsi. Ini bukan soal saya pribadi, tapi soal masa depan Lamongan. Saya ingin memberi teladan bahwa tidak ada yang kebal hukum,” ujarnya.
Respons terhadap Kritik Warganet
Menanggapi komentar nyinyir di media sosial terkait gaya komunikasinya, Yak Widhi memilih sikap tenang. Ia bahkan menganalogikan dirinya dengan tokoh pendekar Wiro Sableng.
> “Saya memang seperti ini. Gaya saya adalah gaya Wiro Sableng, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Mereka yang nyinyir itu sebenarnya korban dari sistem bobrok akibat korupsi. Saya tidak marah, justru saya berjuang untuk mereka,” katanya.
Menurutnya, kritik publik merupakan cerminan kekecewaan masyarakat terhadap praktik korupsi yang merugikan hak-hak warga. Ia optimistis bahwa perjuangan memberantas korupsi akan membawa manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Lamongan.
Apresiasi terhadap Gerakan Kolektif
Selain itu, Yak Widhi juga menyampaikan dukungan terhadap gerakan masyarakat sipil yang sejalan dengan misi pemberantasan korupsi. Ia menyoroti gerakan Lantang (Lamongan Tangi) sebagai inisiatif penting dalam mendorong kesadaran kolektif warga.
> “Bagus itu, gerakan Lantang. Tujuannya mendorong masyarakat peduli terhadap ketimpangan di Lamongan. Kesadaran kolektif warga adalah kunci utama pengawasan sosial. Saya apresiasi dan dukung penuh,” pungkasnya.


























