Pelataran, Ogan Ilir, (02/02/2026) Desa Talang Pangeran Ilir, Ogan Ilir -Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Rekognisi 84 Kelompok 63 melaksanakan program kerja berupa sharing session tentang ekonomi syariah kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) songket di Desa Talang Pangeran Ilir, Kecamatan Pemulutan Barat, Kabupaten Ogan Ilir. Acara ini bertujuan memperkenalkan prinsip-prinsip syariah dalam bisnis, seperti kejujuran, kepercayaan, dan pembiayaan tanpa riba, untuk mendukung kelangsungan usaha tenun tradisional.
Salah satu peserta utama, Bu Erni, pengrajin songket berpengalaman, berbagi pengalamannya selama sesi. Ia mengungkapkan bahwa usaha pembuatan kain tenun ini telah dijalankannya sejak sekitar tahun 2018 , sebagai warisan dari generasi sebelumnya. “Ini bukan hanya pekerjaan, tapi bagian dari hidup saya,” ujarnya. Jenis kain yang diproduksi utamanya songket, dengan motif emas yang khas

Bu Erni menjelaskan bahan-bahan yang digunakan, seperti benang sutra, kapas, dan serat alami lainnya, serta benang emas untuk motif. Ia lebih memilih pewarna alami dari tanaman seperti kunyit atau indigo, karena warna lebih tahan lama dan ramah lingkungan, meskipun pewarna sintetis lebih cepat prosesnya. “Alami lebih sehat dan sesuai syariah, karena tidak merusak lingkungan,” katanya. Proses menyelesaikan satu kain songket bisa memakan waktu 2-3 minggu, tergantung kompleksitas motif, dan ia selalu menerapkan standar kualitas ketat memeriksa kekuatan kain dan kehalusan tenunan sebelum dijual.

Dalam konteks ekonomi syariah, Bu Erni mengakui pernah menggunakan pinjaman berbunga dari bank untuk modal awal, yang ia rasakan berat karena bunganya. Namun, ia belum banyak mengenal pembiayaan syariah seperti murabahah atau mudharabah. “Kalau ada yang syariah, saya mau coba, karena lebih halal,” ungkapnya. Ia menekankan arti kejujuran sebagai fondasi usaha: “Kejujuran itu dasar, kalau bohong bahan atau harga, pelanggan tidak percaya lagi.” Untuk menjaga kepercayaan pelanggan, ia selalu tepat waktu pengiriman, harga adil, dan jujur menjelaskan kelebihan produk seperti keunikan budaya songket, serta kekurangannya seperti harga tinggi akibat proses lama.
Tantangan terbesar yang dihadapi Bu Erni adalah persaingan dengan kain murah dari luar dan biaya bahan baku yang mahal, serta kurangnya minat generasi muda. Menurut Bu Erni, usaha tenun bisa bertahan lama berkat dedikasi, inovasi motif, dan pelestarian budaya, ditambah kepercayaan pelanggan yang sudah lama terjalin. Ia pun berpesan kepada generasi muda: “Belajar dari kami, jangan malu kerja tangan. Kain tenun ini warisan, kalau tidak dilestarikan, hilang selamanya.”
Sharing Session ini diharapkan mendorong UMKM songket menuju praktik bisnis yang lebih berkelanjutan dan sesuai syariah, dengan inspirasi dari pengalaman seperti Bu Erni. (Sumber: Laporan KKN Rekognisi 84 Kelompok 63)

























