Tragedi Juliana Marins di Gunung Rinjani, Alarm Keras untuk Keselamatan Pendakian Indonesia
Tragedi jatuhnya Juliana Marins, pendaki asal Brasil, di jurang Gunung Rinjani pada 21 Juni 2025 bukan sekadar kecelakaan biasa. Insiden ini menyisakan duka mendalam, sekaligus membuka tabir sejumlah persoalan mendasar terkait keselamatan pendakian di Indonesia, khususnya di destinasi populer seperti Rinjani. Kasus ini menjadi sorotan internasional, memicu kritik tajam terhadap prosedur keselamatan, profesionalisme pemandu, dan kesiapan tim penyelamat di lapangan.
Kronologi dan Fakta Lapangan
Juliana, yang disebut minim pengalaman mendaki gunung, memulai perjalanan bersama lima pendaki lain dan seorang pemandu melalui jalur Sembalun, salah satu jalur terberat di Rinjani. Di kawasan Cemara Tunggal, ia meminta berhenti karena kelelahan, namun rekan-rekannya dan pemandu memilih melanjutkan perjalanan. Dalam kondisi tertinggal sendirian, Juliana terpeleset ke jurang sedalam 300–600 meter sekitar pukul 06.30 WITA.
Upaya penyelamatan berlangsung dramatis dan penuh tantangan: medan terjal, kabut tebal, suhu dingin, serta cuaca buruk yang menggagalkan rencana evakuasi udara. Tim SAR baru mencapai lokasi korban setelah empat hari pencarian dan menemukan Juliana sudah meninggal dunia, diduga akibat paparan cuaca ekstrem sebelum bantuan tiba.
Titik Lemah Sistem Keselamatan
Kasus ini menonjolkan beberapa kelemahan krusial:
Kelalaian Pemandu: Keluarga korban menuding pemandu lalai karena membiarkan Juliana sendirian dalam kondisi lelah. Padahal, salah satu tugas utama pemandu adalah memastikan seluruh anggota rombongan terpantau dan aman, apalagi di medan ekstrem seperti Rinjani.
Minimnya Pengalaman Pendaki: Fakta bahwa Juliana kurang pengalaman mendaki gunung seharusnya menjadi perhatian sejak awal. Operator wisata dan pemandu wajib melakukan asesmen kemampuan fisik dan mental peserta sebelum pendakian dimulai.
Keterbatasan Peralatan dan Prosedur Evakuasi: Proses evakuasi yang memakan waktu berhari-hari memperlihatkan keterbatasan peralatan penyelamatan di titik-titik rawan. Dibandingkan dengan gunung-gunung di luar negeri, Rinjani masih minim fasilitas keselamatan seperti alat rescue yang siap pakai di pos-pos strategis.
Koordinasi dan Respons SAR: Kritik juga diarahkan pada lambatnya respons tim SAR, yang dinilai kurang sigap dan kalah cepat dibanding relawan. Keterbatasan informasi dan komunikasi memperburuk situasi, menimbulkan kekecewaan di kalangan keluarga korban dan komunitas internasional.
Momentum Evaluasi dan Tuntutan Perubahan
Tragedi Juliana Marins adalah alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan wisata alam di Indonesia. Beberapa langkah yang perlu segera dilakukan antara lain:
Evaluasi Ketat Standar Pemandu: Sertifikasi dan pelatihan pemandu harus diperketat, termasuk kemampuan manajemen risiko dan pertolongan pertama.
Peningkatan Fasilitas Keselamatan: Perlu investasi pada alat rescue dan sistem peringatan dini di jalur-jalur rawan, serta pelatihan rutin bagi petugas dan relawan.
Regulasi dan Edukasi Pendaki: Operator wajib melakukan screening ketat, edukasi risiko, dan memastikan pendaki memahami batas kemampuannya sebelum naik gunung.
Transparansi dan Perbaikan Prosedur SAR: Protokol penanganan kecelakaan harus dievaluasi agar lebih adaptif terhadap kondisi ekstrem dan mampu bergerak cepat.
Jangan Biarkan Tragedi Ini Terulang
Kepergian Juliana Marins menjadi pengingat pahit bagi semua pihak bahwa keindahan alam tidak boleh dibayar dengan nyawa. Gunung Rinjani dan pegunungan Indonesia lainnya adalah aset pariwisata luar biasa, namun juga harus menjadi tempat yang aman dan bertanggung jawab bagi siapa pun yang mendakinya.
Sudah saatnya Indonesia membangun sistem pendakian yang lebih profesional, lebih manusiawi, dan lebih siap menghadapi segala risiko. Jangan tunggu jatuh korban berikutnya untuk bertindak.
by : Amelinda Septia Putri


























